Tulisan

Gerak Analog Di Era Digital

Oleh : Randa

image from pixabay.com

Pada September 1963, sebuah perusahaan elektronik asal Belanda, Philips, resmi meluncurkan compact cassette atau yang kemudian lazim dikenal orang sebagai kaset. Sebuah media penyimpan data melalui format suara menggunakan pita magnetik. Sejak perkenalan pertama itu, penggunaannya meluas. Termasuk dalam merekam musik.

Popularitas kaset pita meningkat drastis setelah perusahaan asal Jepang, Sony, memperkenalkan walkman pada 1984, yang mempermudah orang menikmati musik. Kaset pita terus merebak. Meledak. Tak terbendung. Bahkan hingga dua dekade. Menjadi rekam jejak musisi dalam berkarya. Hingga menghidupi banyak turunan ekonomi dari distribusi alat rekam menggunakan gulungan pita ini.

Memasuki awal tahun 2000an,  kejayaan kaset pita perlahan mulai meredup. Zaman terus bergerak. Bergeser. Digitalisasi teknologi terjadi di segala lini. Kaset pita terpaksa harus mengalah kepada teknologi yang lebih muda, mudah, dan murah, dari Compact Disc (CD) hingga MP3. Pergeseran analog ke digital. Imbasnya terjadi pergeseran masyarakat dalam hal memutar dan menikmati musik. Pergeseran tersebut mau tak mau menggeser kehidupan ekonomi sektor usaha yang pernah jaya karena booming kaset pita. Toko-toko kaset yang dulu menjamur bak karat di rel kereta di berbagai kabupaten dan kota mendadak luruh. Satu per satu mengangkat bendera putih. Menyerah. Bahkan meluasnya penggunaan ponsel pintar dengan berbagai platform digital pemutar musik yang serba ringkas seolah memungkasi keberadaan kaset pita. Masyarakat tak lagi berminat pada rilisan fisik. Kaset pita menjadi barang antik.

Selesai? Ternyata belum! Beberapa orang mencoba bertahan. Suhartono salah satunya. Lelaki berdarah Madura, kelahiran Malang 52 tahun silam itu seolah menjadi salah satu anomali di era digitalisasi musik. Ia masih setia pada usaha penjualan keset dan cd. Ia seolah menolak tunduk pada zaman. Sudah 30 tahun ayah dari 3 orang anak ini menggeluti usaha tersebut. Bermodal 65 kaset pita yang dia koleksi sejak bangku SMP, Tono, begitu beliau akrab disapa, nekat menekuni profesi ini setelah usahanya bekerja di negeri jiran sirna.

Kegemarannya akan musiklah yang membuatnya terus bertahan dalam usaha yang telah menghidupinya tiga dekade terakhir ini. Melalui lapak berukuran kurang lebih 1x5 meter di Jalan Juanda Kota Malang, bersebelahan dengan Kampung Warna-Warni, salah satu destinasi wisata di Kota Malang, Tono dengan setia merawat asa dan cintanya pada kaset pita. Lapaknya buka setiap hari mulai pukul 10.00-16.00 WIB. Saya sering mengunjungi lapaknya dan berbincang dengannya.

"Aku menyukai musik dan mengoleksi kaset sejak remaja, usaha ini aku jalani ini dengan senang hati, karena ini hobby yang akhirnya menjadi sumber nafkah," ujar lelaki yang menggemari musik beraliran metal tersebut.

Ada ratusan kaset dan cd bekas yang dijual Tono. Merentang dari berbagai album dan genre musik. Mulai dari pop hingga rock. Mulai dari qasidah hingga keroncong. Dijejer rapi di rak yang terbuat dari kayu. Dengan rentang harga yang variatif.  Mulai 20 ribu sampai 100 ribu bisa kita temui.

 "Tergantung kondisi fisik kaset dan tingkat kelangkaannya. Kaset yang banyak diburu dan tidak banyak beredar akan semakin melambung harganya seperti kaset ini. Kemarin pernah terjual 100 ribu," tutur Tono seraya menunjukkan salah satu album dari musisi asal Surabaya, alm Gombloh. Selain itu Album band Metallica dan The Beatles juga salah satu album kaset langka berharga mahal.

Di tengah asap kretek yang terus keluar dari mulutnya, Tono bercerita bagaimana suka duka dalam mempertahankan usahanya. Bagaimana dia dan kawan-kawan seprofesinya harus berurusan dengan Satpol PP karena menempati lahan yang dianggap terlarang untuk berjualan.

“Ya, kadang harus kucing-kucingan dengan aparat,” katanya.

Meski era digital seolah menggeser era analog kaset pita, Tono seolah tak hendak tunduk. Baginya berjualan kaset pita dan CD adalah jalan hidupnya. Buktinya hingga saat ini lapaknya masih ramai oleh pengunjung baik tua maupun muda. Mereka yang masih setia pada kaset pita atau mereka yang sekedar ingin bernostalgia. Dari kesetiaannya itu, Tono bahkan bisa menikmati manisnya hasil usaha sampai bisa membeli sebuah tempat tinggal. Sayang, nasib buruk menimpanya. Anak dan istrinya sakit-sakitan. Untuk biaya berobat, Tono, terpaksa melepas rumahnya. Dijual. Namun setelah semuanya sembuh, istrinya justru pergi meninggalkannya.

Saat ditanya perihal digitalisasi musik, lelaki yang dulunya sempat bercita-cita menjadi tentara, mengikuti jejak sang ayah, namun kandas itu, mencoba diplomatis sekaligus optimis.

"Ya, biarlah berjalan begini adanya. Aku menikmati hari demi hari dengan tumpukan kaset ini. Mendengar gesekan pita kaset memberiku kenikmatan dan memori masa remaja yang tak pernah hilang,” katanya mantap.

Optimisme yang tidak berlebihan saya rasa. Nyatanya, tak sedikit musisi yang bernostalgia dengan meluncurkan album dalam bentuk kaset pita. Sebut saja misalnya, musisi Amerika Serikat, Billie Eilish. Album debutnya bertajuk “When We Fall Asleep, Where Do We Go” dirilis dalam bentuk kaset pita magnetik dan berhasil terjual sebanyak 4.000 keping.

Sementara itu, di Inggris, menurut laporan Industri Fonografi Inggris (BPI), setidaknya ada 35.000 kaset pita berhasil terjual di Inggris. Meningkat dua kalilipat dari tahun sebelumnya (2018), yang hanya 18.000 keping saja.

Di Indonesia sendiri beberapa Band ada yang ‘bandel’ merilis album dalam format kaset pita di tengah menggilanya format musik dalam bentuk digital. Efek Rumah Kaca (ERK) salah satunya. Band yang digawangi Trio Cholil, Adrian, dan Akbar merilis album mereka dalam bentuk CD dan kaset. Karena dahulu dibuat terbatas, kaset dari album tersebut kini sering dicari kolektor dan harganya pun cukup mahal. selain ERK, ada juga Maliq & D’Essentials, The SIGIT, dan Morfem. Slank, juga tak mau ketinggalan. Album terbaru mereka “Slanker Forever’ yang sebelumnya dirilis dalam bentuk digital pada Agustus 2019 silam, pada Desember 2019 dirilis dalam bentuk kaset pita. Di tahun yang sama, sebulan sebelum Slank meluncurkan album kaset pitanya, Gigi lebih dulu meluncurkan album “Silver” pada bulan November, sebuah mini album box set dalam bentuk kaset.

Melihat makin menggeliatnya distribusi kaset pita, Mulann, perusahaan asal Perancis berencana untuk kembali membuat pemutar kaset pita portabel, mirip dengan Walkman yang booming lebih dari dua dekade silam. Pemutar kaset pita portabel besutan Mulann tersebut kabarnya akan diberi nama "Le Walkman”. Perangkat ini juga akan dilengkapi sederet fitur modern, seperti koneksi bluetooth dan baterai yang dapat diisi ulang.

Menurut CEO Mulann, Jean Luc Renou, kaset pita dan pemutar musik portabel yang ia produksi bukan dibuat untuk bersaing dengan platform musik digital. Melainkan sebagai pelengkap dalam menikmati musik.

“Pemutar musik analog ibarat perapian. Ia ada tidak untuk menggantikan pemanas modern.  Sedangkan pemanas modern tidak selamanya menggantikan perapian," tutur Renou saat diwawancarai ConnexionFrance, Kamis (23/1/2020).

Sampai di sini, saya ingin mengatakan bahwa kecanggihan teknologi digital yang merangsek ke hampir setiap sendi kehidupan, nyatanya tidak selalu berhasil ‘membunuh’ teknologi lama. Apalagi yang lama itu punya penikmat fanatis seperti Suhartono dan para kolektor kaset pita.  Dengan lain kata manusia tetap mempunyai kendali diantara roda jaman yang bergerak cepat. Hidup adalah pilihan.

 

Tentang Penulis

Randa, Lahir di Pamekasan, Madura 28 September 1986. Sekarang bekerja di salah satu BUMN bidang perbankan. Sedari duduk di bangku sekolah dasar telah menggemari musik dan lingkar sekelilingnya. Kini tinggal di Malang.

No Telepon : 0817310204

Email : randanast@gmail.com

Ig : @rndnst