Tulisan

Zaman Bebas Dan Bebek Bakar Pedas

ZAMAN BEBAS DAN BEBEK BAKAR PEDAS

(Rubrik Kata Mereka)

“Saya ingin kembali ke sebuah zaman, saat beban dan tanggung jawab tidak begitu signifikan. Zaman dimana saya bisa bermain dengan leluasa. Zaman bebas. Sebab zaman itu memberi ruang untuk berkespresi tanpa dibatasi. Tetapi zaman itu telah lewat. Hari ini, beban dan tanggung jawab itu adalah kenyataan hidup yang harus dijalani,” kata Khairul Umam. Jawaban itu terlontar saat saya mengajukan pertanyaan berkenaan dengan mesin waktu: semisal diberi kesempatan kembali ke masa lalu, kembali ke zaman apa yang akan dipilih.

Sebuah pertanyaan iseng sebenarnya. Untuk sekedar mencairkan suasana. Saya melihat matanya menerawang. Seolah mengenang sebuah titimangsa yang telah jadi pudar. Dan jawaban yang sungguh realistis mengingat ia kini bukan kanak lagi. Kini ia adalah salah seorang anggota dewan dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Tepatnya wakil ketua komisi IV DPRD Kabupaten Pamekasan. Komisi yang menangani kesejahteraan rakyat. Sebuah komisi yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Apalagi di masa pandemi korona seperti sekarang ini.

“Kesibukan menyita banyak waktu luang saya,” kata alumni Pesantren Nasyrul Ulum, Pamekasan itu. Meski demikian di sela-sela waktu luangnya ia masih sering menyempatkan diri bertandang ke kafe Manifesco. Untuk sekedar ngopi atau melepas penat sejenak. Padahal jarak kantor dan kafe ini cukup jauh pula. Tidak bisa didatangi hanya dalam sekali isapan kretek atau sepelemparan batu. Kecuali yang melempar seorang gergasi.

“Kafe ini istimewa. Pelayanannya mengesankan. Manifesco memberi gairah baru untuk tempat nongkrong. Suasananya natural. Juga menjadi tempat yang mendukung aktivitas yang selama ini mulai ditinggal oleh kebanyakan anak muda; literasi,” ungkap ketua Fraksi PKB ini (Rabu, 24 Juni).

Saya tergelitik untuk tahu menu kesukaan dari pria pembaca “7 Habits of Highly Effective People, Stephen R Covey,” ini apa? “Bebek bakar menu pedas. Bagi saya rasanya mantap,” Tegasnya. Senyumnya mengembang. Sayang menu kesukaannya itu belum tersedia di Kafe Manifesco. Saya tak tahu sudah berapa kali ia menahan keinginannya bisa menyantap bebek bakar kesukaannya itu di kafe ini. Yang saya tahu ia memberi saran untuk perbaikan kafe Manifesco ke depan.

“Kalau menurut saya, perbaikan manajemen. Manajemen ini langkah awal bagaimana sebuah perusahaan digerakkan. Pertama, SDM (karyawan dan tenaga lainnya) perlu dibekali visi yang jelas mengenai orientasi perusahaan. Jika orientasinya ngopi dan literasi, jadikan itu sebagai brand manifeso. Kedua, administrasi. Memanfaatkan alat-alat modern dalam transaksi (OVO, mesin gesek ATM, dsb) untuk memudahkan layanan transaksi pada pelanggan. Layanan modern seperti KFC mungkin bisa juga ditiru. Misal, ketika seseorang lewat di depan kafe, orang itu diberi selebaran tentang info menu kafe. Selain itu, ini yang saya kira penting, menambah koleksi bahan bacaan seperti buku-buku kebudayaan yang berkaitan dengan khazanah Madura, khususnya, dan budaya nusantara umumnya,” saran kader muda NU Pamekasan ini.

Saya mencatat setiap penjelasannya. Saya membayangkan kalau ada 100 pelanggan Manifesco seperti Kak Umam, panggilan akrabnya, roda ekonomi kafe sepertinya tak akan dihinggapi karat resesi. Sebab sejak Pamekasan dirundung pandemi saya mendengar suara derak karat di roda kami. Begitu terang dan kadang menyakitkan. Namun waktu begitu pendek dan wawancara tentu lebih pendek lagi. Karena itu saya akhiri sampai di sini. Sampai jumpa lagi dalam rubrik “Kata Mereka” dengan tokoh yang berbeda. Selamat ngopi. Jangan lupa membaca. Jangan lupa bahagia.