Tulisan

Sajak-Sajak Aruna Lanang

SAJAK-SAJAK ARUNA LANANG


SEHABIS HUJAN

genangan air di trotoar

sesajen di atas kuburan

aroma jagung bakar dalam ingatan


kota ini puisi 

sebelum kata-kata jadi kembang api

di tubuhmu



NADA-NADA HIDUP


nada-nada minor berulang

seperti mimpi yang mengganggu

mestikah ada yang kembali dikenang?

hari penuh ragu dalam dentang jam

tangan dalam tangan berlepasan

hidup apakah yang lebih baik

dari sobekan malam dan upaya

menunda kiamat?


nada-nada minor berulang

seperti pecun pesta gila

di bunker-bunker penuh lobak

licin dan basah dan tegak

bagai  ketaatan keyboard pada pikiran

untuk menuliskan kata; logam

rambut cepak, gereja tua

dan ctrl+A pada puisi ini


sepi, sepikah itu

saat melakukan ctrl+X

lalu ctrl+P di word 

pada puisi ini? 


puisi hanyalah nada-nada minor 

pada ketuk keyboard yang

huruf-hurufnya mulai pudar

o, panjang umur hidup

wahai sekrup pada mesin absensi




HIDUP INI JATUH


kadang 

hidup ini jatuh

ke dalam malam

sebab tak ada 

yang terus-terusan

tegak dalam lari

di bawah hujan


ada kalanya kaki

terpeleset pada 

becek senja

dan licin nasib buruk lalu 

airmata melesat

seperti angkot

pada jam 5.15 sore

di bawah pendar 

celaka kota

penuh merkuri


kadang 

hidup ini jatuh

Ke dalam malam

dan sekotak tisu

basah

berserakan 

di lantai

subuh

\



PUISI MELESAT


puisi melesat

begitu saja

saat sebuah motor melintas

menembus senja;


hari berasap

memenuhi kepala

pekat dan tak tersentuh

bagai bayang manusia

keluar masuk 

pintu kaca 

sebuah plasa


puisi melesat

begitu saja

saat sebuah motor berhenti

di kios bensin;


yang keluar dari rahim ibu;

aku

yang mendekat ke dalam aku;

langkah sunyi kematian itu




HITAM


banyak yang menyeruMU

tapi tak banyak yang menyentuhMU

doa-doa yang dulu akrab itu

 tak lagi bisa mengetuk kalbu


semakin banyak mereka menyebut nama

semakin dalam aku melipat lupa

orang-orang sekedar menyalakan toa

tapi tak pernah benar-benar berumah di dalamNYA


setiap waktu

bayanganMU terang yang lekas jadi pudar

seperti tulisan di papan iklan

tenggalam dalam deru kota dan umpatan

menyentuhMU, hanyalah asing yang gemetar

di dalam sepi


di dalam diri




LAGU RANTAU


Ia pergi

membawa sesobek bayangan rumah 

dan lebam rindu ibu dan ayah 

di dalam ransel


Ia pergi

memandang tempat ari-arinya ditanam

lalu berpaling  dan tak pernah menoleh lagi



Biodata Penulis

Kelahiran Sragen, 1990. Mahasiswa semester akhir. Menyukai puisi sejak SD. Beberapa kali mengikuti lomba baca puisi. Moto ; Berpuisi Bercerita