Tulisan

Persoalan-Persoalan Mubazir Kampanye Literasi

Membaca buku, mula-mula adalah upaya menjelajah dunia. Aktivitas ini kadang berangkat dari hal kecil, bagai menggenggam kerikil, namun kemudian berubah jadi pelukan. Memeluk gunung imajinasi. Karena itu membaca buku bukan perkara mudah. Tantangan utama dari membaca adalah pengorbanan. Bukan sekedar melawan rasa malas dan bosan. Pengorbanan, kita tahu, kerap meminta banyak syarat. Sekaligus banyak kerumitan. Sebab pada akhirnya menjadi seorang masyarakat pembaca berarti menjadi masyarakat yang siap untuk terperangkap dalam dunia imajiner. Bertempur dalam dunia diskursus yang maha luas dan kadang imanen. 

Berdasarkan tesis di atas, berita tentang rendahnya minat baca masyarakat sebenarnya bukanlah kabar yang perlu digawat-gawatkan. Justru sebaliknya, kampanye pegiat literasi yang memaksa masyarakat awam gemar membaca adalah sebuah tanda “marabahaya” bagi kemajuan masyarakat. 

Buku, kita tahu, ibarat mutiara di dalam kerang. Ia adalah proses panjang dan liat, buah pikiran intelektual. Intelektual, kita tahu, adalah kelas elit. Para brahmana. Para borjuis (kecil) yang laku hidupnya jauh dari kehidupan kaum alit. Tentu adalah sebuah keanehan belaka jika buah pikiran kaum intelektual dipaksakan untuk digemari oleh para kaum papa yang terdiri dari kelas petani, buruh, nelayan dan kaum miskin kota. Pasalnya, hanya kalangan tertentu saja yang bisa mengakses buku secara baik. Suatu kelas yang sejak mula lahir telah dibiasakan dan dipersenjatai dengan perangkat ilmu tertentu untuk sanggup membuka kuncinya dan masuk ke dalamnya. Kemudian mejelajah rimba kata-kata.

Sementara bagi kaum miskin, kaum tak berpunya, bertahan hidup menyelamatkan keluarga dari kelaparan dan mimpi buruk dilintas pembangunan adalah tugas utama. Jauh lebih utama daripada jadi pioner bagi ambisi pemerintah daerah, misalnya, untuk menjadikan daerahnya sebagai kota literasi. Berharap semua masyarakatnya jadi gemar membaca buku. Sebuah utopia semu yang ahistoris belaka. Petani jelas tak punya waktu membaca Rich Dad, Poor Dad karya Robert T Kiyosaki, misalnya, sambil mencangkul atau membajak sawah. Nelayan tak mungkin bisa memahami cerita Rokat Tase’ Muna Masyari atau Teror Moral Ongky Arista sambil menjala ikan, sementara tangan yang lain mengontrol kemudi mesin perahu. Bahkan sepulang mereka mencari makan, kelelahan sudah menjangkiti mereka. Bukankah jadi seakan sebuah tindakan tidak berperikemanusiaan, misalnya, jika memaksa mereka yang telah lelah membanting tulang, untuk mengorbankan satu-satunya waktu luang mereka beristirahat sepulang kerja, dengan mewajibkan membaca buku. Bahkan buku nikah saja mereka nyaris tak pernah membacanya. 

Herannya, kenyataan-kenyataan materialistik itu nyaris tak dipahami pemerintah daerah. Di Pamekasan, misalnya, kepala daerah sedang berjibaku untuk mewujudkan obsesi borjuisnya menjadikan Pamekasan sebagai kota literasi. Mendorong semua masyarakatnya untuk cinta membaca. Salah satunya mendorong desa-desa untuk membuat perpustakaan desa. Sepintas terlihat megah. Tapi mari lihat kenyataan di bawah ini.

“Sebagai Bunda Baca, saya menumbuhkan perpustakaan di desa-desa. 179 desa di Pamekasan memiliki perpustakaan desa tetapi tidak semua aktif,” jelas Nayla Tamam saat mengisi kegiatan Goes To School, Safari Jurnalistik dan Kepenulisan, pada Februari 2020 silam. Berdasarkan data dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pamekasan, dari jumlah tersebut hanya 15 persen yang aktif. Atau sekitar 26 Perpustakaan desa. 

Sangat memprihatinkan bukan? Kalau Anda menjawab, iya, Anda keliru. Sebab  kalau melihat lebih jauh, kenyataan itu bukanlah hal yang serius. Lumrah saja adanya. Mendirikan perpustakaan di desa sebenarnya adalah proyek pembangunan paling ganjil. Kantong-kantong masyarakat miskin berada di desa. Masyarakat miskin adalah masyarakat pekerja. Bukan masyarakat pembaca. Membangun perpustakaan di desa-desa dengan menggunakan dana desa atau dana APBD lainnya hanya akan menjadikan perpustakaan desa sekedar rumah-rumah tempat jin beranak. Kosong. Kering. Rapuh. Berlumut dan gampang roboh. Sebuah proyek mubazir. Sekedar menghambur-hamburkan uang hasil pungutan pajak. Sebuah proyek salah sasaran paling telak. 

Sebab buku adalah hasil budaya kaum elitis dan membaca adalah tindakan elitis, maka sasaran yang paling tepat untuk mengembangkan budaya literasi dalam masyarakat adalah masyarakat elit. Oleh sebab itu, kampanye paling potensial untuk membudayakan literasi adalah kelas menengah. Melatih baca dan tulis hingga mahir paling tepat diarahkan pada guru. Bukan buruh, nelayan, dan kaum tani miskin. Guru adalah garda terdepan perubahan pola pikir masyarakat. Melatih guru secara habis-habisan agar memiliki habit dasar atas kultur buku jauh lebih efektif dalam menularkan virus literasi. Jika guru telah memiliki kultur literasi yang kuat, maka akan mudah menularkan kepada anak didiknya. 

Jangan kebalik. Memaksa siswa membaca buku, tapi gurunya sama sekali tidak mengerti persoalan buku. Salah satu bentuk paksaan yang gagal adalah dikeluarkannya Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang Gerakan Literasi sekolah (GLS) yang mengharuskan siswa membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Efektifkah aturan itu mendongkrak minat baca siswa? Nehi. Apakah perpustakaan sekolah jadi ramai setelah diterapkannya aturan itu? Nehi. Nasib perpustakaan sekolah masih sesunyi gudang penyimpanan barang bekas. 

Sampai di sini, mengapa tidak guru saja yang dipaksa wajib membaca buku selain buku pelajaran yang diampunya? Membaca buku sastra, misalnya. Dibuatkan aturan, jika melanggar dikenai sanksi penurunan pangkat, misalnya? Untuk meningkatkan kualitas baca para guru itu, pemerintah pusat bisa melibatkan sastrawan atau sarjana sastra yang benar-benar mengerti soal buku untuk melatih para guru melakukan bacaan mendalam. Membaca secara berkualitas. Sebelum akhirnya didorong untuk menulis. 

Selain guru, ada kelompok-kelompok lain yang bisa jadi sasaran kunci suksesnya gerakan literasi ini. Mereka adalah dosen, fasilitator pendidikan masyarakat, dan mahasiswa. Mereka adalah kelompok-kelompok yang memiliki syarat minimal untuk menjelajah dalam alam buku;  kemelekan literasi dasar, banyak memiliki waktu luang, mampu berpikir abstrak, dan seterusnya. Menganggarkan dana untuk pengembangan kapasitas mereka tentu saja lebih bijak daripada membeli 100 unit mobil untuk dibikin perpustakaan keliling, tapi sebenarnya nirfaedah. Benar memang mobilnya nangkring di pinggir sawah di desa. Tetapi tiap hari petani bekerja saat musim tanam padi, tembakau atau jagung. Tidak membaca. Membaca berarti memangkas waktu kaum miskin bekerja. Akibatnya, pemandangan mobil perpustakaan keliling yang berdiri di pinggir sawah akan jadi pemandangan asing. Atau bahkan lucu. 

Kalaupun tetap ngotot ingin mendekatkan buku sampai ke gubuk-gubuk kaum miskin, berhentilah berkampanye perkara kuantitas baca. Fokuslah pada kedalaman. Pada kualitas bacaan. Metode pengajian kitab di pesantren-pesantren bisa diadopsi. Satu buku yang dibaca selama setahun atau dua tahun jauh lebih baik  jika dilakukan secara intensif. Apalagi dibantu seorang pemandu yang otoritatif, sebuah buku yang dibaca secara perlahan-lahan; dari kalimat per kalimat, dari paragraf ke paragraf; dari halaman ke halaman, bisa menimbulkan perubahan pikiran. Minimal mengerti indahnya seni tulisan. Tentu saja untuk memulainya bisa dengan buku-buku sastra. 

Berhentilah berlomba-lomba untuk mencapai kuantitas. Banyak-banyakan jumlah buku yang dibaca. Banyak baca tidak menjamin pikiran jadi bernas. Banyaknya buku yang dibaca juga tidak menjamin orang jadi bijaksana. Para investor, para dosen yang meloloskan AMDAL-AMDAL “bodong”, yang membuat kebijakan merusak lingkungan masyarakat adat di hutan-hutan lindung, misalnya, tentulah para pembaca buku yang rakus. Para brahmana yang punya perpustakaan pribadi di rumahnya. Tapi mereka lebih senang merusak daripada menyelamatkan. Lantas apa guna banyak baca buku jika hanya merusak dan menindas orang lain? 

Atau jangan-jangan kampanye ‘melek literasi’ yang sedang ramai itu cuma sekedar euforia komodifikasi kapitalistik atas buku semata, yang hanya sekedar melahirkan "seleb literasi", sekedar berhala, seperti; duta buku, bunda baca dan sebutan lainnya. Sementara itu, saat buku-buku berjejer di rak-rak buku di perpustakaan,  di luar gedung perpustakaan, teror terhadap rakyat miskin juga terus berjalan. 

Photo taken from pixabay.com