Tulisan

Suara Chomsky dan Skandal-Skandal Busuk Amerika

Oleh: Triya Diansyah


Judul Buku : How The World Works

Penulis : Noam Chomsky

Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Terbit : November, 2018

Tebal : xii + 448  halaman

ISBN : 978-602-291-278-1


Barangkali tak terlalu berlebihan jika New York Times, sebuah koran  yang terbit di New York, salah satu negara bagian Amerika, menasbihkan dirinya sebagai salah satu intelektual paling penting yang masih hidup. Namanya masuk dalam daftar panjang pengarang yang paling banyak dikutip sepanjang masa, berada di baris kedelapan setelah Marx, Lenin, Shakespeare, Aristoteles, Injil, Plato, dan Freud. Bahkan Science Citation Index mencatat sepanjang 1974 hingga 1992, ia memperoleh penghargaan sebanyak 1619 kali. Termasuk di antaranya adalah Kyoto Prize, semacam hadiah Nobel yang diberikan di Jepang, pada tahun 1988. 


Tak diragukan lagi, intelektualitasnya dikenal luas di hampir separuh dunia. Sayangnya, tanah airnya sendiri justru seakan-akan mencampakkannya.  Pada masa pemerintahan Richard Nixon, misalnya, ia masuk dalam daftar musuh Gedung Putih. Gedung putih bahkan juga pernah mengeluarkan kebijakan agar media massa mainstream tidak menerbitkan karya-karyanya. Karena gagasan-gagasannya yang terlalu radikal mengenai berbagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat. 


Puncaknya, ia  pernah ditangkap dan diinterogasi. Namun nyalinya tak kunjung ciut. Malah sebaliknya, makin berkobar. Apa yang membuatnya jadi sekeras topi baja tentara? "Tak perlu digawat-gawatkan. Itu semua sudah jadi tanggung jawab seorang intelektual. Bertrand Russell dan Albert Einstein sama-sama dikenal sebagai intelektual hebat. Keduanya sepakat bahwa bahaya tengah mengancam umat manusia. Tapi mereka memilih jalan yang berbeda untuk meresponsnya. Einstein hidup dengan enak di Princeton dan mengabdikan dirinya semata-mata untuk riset seraya sesekali menyampaikan orasi ilmiah, sementara Russell memilih melakukan demonstrasi di jalan. Hasilnya? Russell dikutuk, sementara Einstein dipuja setinggi langit layaknya malaikat. Mengejutkan? Bagi saya tidak. Semua itu pilihan," katanya. Ia memang mengagumi Russell. Foto peraih nobel sastra tahun 1950 itu diletakkan di ruang kerjanya di MIT (Massachusetts Institute of Technology). 


Ia adalah Avram Noam Chomsky atau yang kemudian lebih dikenal dengan Noam Chimsky.  Lahir pada 7 Desember 1928 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Seorang profesor Linguisik. Kepakarannya itu kemudian merambah ke studi politik, sebuah studi yang kemudian membawa dirinya ke sebuah medan laga, berhadapan dengan negara tempatnya dilahirkan.


Ayah Chomsky, William Zety Chomsky, adalah seorang sarjana Yahudi, ahli gramatika Ibrani, dan dikenal sebagai penulis buku Hebrew the Eternal Language, sebuah karya tentang bahasa Yahudi yang diterbitkan pada tahun 1958. Pada usia dua belas tahun, Chomsky kecil telah membaca salah satu karya berat ayahnya tentang bahasa Ibrani di abad ke-13. Dari ayahnya itulah Chomsky kecil mengenal bahasa Yahudi, budaya Yahudi, dan tradisi kebebasan intelektual, yang kemudian hari melekat pada diri seorang Chomsky. Sedangkan ibunya, Elsie Simonofsky, adalah seorang aktivis kiri yang mewarisi Chomsky keseimbangan tanggung jawab seorang intelektual, sebagai pemikir sekaligus aktivis. Suami dari kakak ibunya, paman Chomsky, yang mengajarkan perspektif intelektual pada Chomsky kecil dengan memperkenalkan pemikiran para tokoh. Dari pemikiran Sigmund Freud hingga berbagai aliran pemikiran komunis seperti Marxis, Stalinis, Trotsky, Leninis, dan lainnya.


Nah, buku ini adalah salah satu buku yang menunjukkan dengan sangat jelas mengapa Chomsky menjadi musuh Gedung Putih. Disusun dari wawancara-wawancara dan pidato-pidatonya yang diedit secara intensif oleh Arthur Naiman. Arthur Naiman adalah seorang pemilik penerbitan buku-buku komputer. Ketertarikannya pada pemikiran Chomsky mula-mula karena Naiman kerap mendengar Chomsky berbicara di radio. Untuk menerbitkan wawancara dan pidato-pidato tersebut Naiman pun membuka penerbitan baru dengan nama Odonian Press, dia lantas menerbitkan empat buku tipis Chomsky antara tahun 1992 dan 1998 dalam seri Real Story. Tak dinyana hingga akhir tahun 2002, masing-masing telah terjual, rata-rata 118.000 salinan. Kemudian Bentang Pustaka menerjemahkan 2 buku chomsky, How the World Works pada yang merupakan kolaborasi dari empat seri "Real Story": Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Paman Sam; Yang Kaya Sedikit dan yang Gelisah Banyak; Rahasia, Kebohongan dan Demokrasi; serta Kebaikan Umum, dan Who Rules the Worlds? yang berisi investigasi intelektual dari Chomsky. 


Melalui karya Noam Chomsky yang berjudul How The World Works ini, masyarakat akan diajak membaca dan memahami kelicikan dan skandal Amerika yang selama ini kerap dipandang sebagai Negara besar dan polisi dunia. Padahal, di balik komestik manis negara demokratis, adidaya, dan bermartabat itu, Amerika membangun dan membesarkan negaranya dengan darah rakyat dunia ketiga, manipulasi busuk, serta kebohongan murahan dalam membangun opini publik dalam mencitrakan dirinya.


Bagi Chomsky, AS tidak akan membiarkan begitu saja sebuah negara dapat hidup secara mandiri, damai, dan sejahtera. Perencana kebijakan AS di bawah Menteri Luar Negeri, Dean Acheson, sejak dahulu memperingatkan “satu apel yang busuk bisa merusak apel-apel lainnya di dalam keranjang.” Tentu saja hal tersebut berbahaya. “Kebusukan” dalam kesuksesan pembangunan sosial dan ekonomi tidak bisa dibiarkan. “Apel busuk” tersebut harus segera dihancurkan, sebelum menyebarkan kebusukan ke apel-apel lainnya.


Tidak peduli apakah sebuah negara itu penting atau tidak, mempunyai sumber daya yang melimpah atau tidak, kenyataannya tidak ada negara yang benar-benar dapat bebas dari perlakuan intervensi AS. Justru negara lemah dan miskin yang seringkali mempunyai ancaman terhadap kekuasaan AS dan mempunyai kemungkinan penyebar “apel busuk.”


Misalnya negara Laos, yang bagi Chomsky merupakan negara paling miskin di dunia. Setelah revolusi sosial skala kecil mulai berkembang, Washington melakukan pengeboman rahasia yang melenyapkan banyak nyawa penduduk, meluluhlantakkan area pemukiman, lalu mereka “cuci tangan” seolah-olah tak berdosa dan berdalih sedang memerangi Vietnam Selatan.


Begitu juga dengan Grenada, Nikaragua, dan El Salvador. Ketika benih-benih revolusi mulai muncul, Washington segera menghancurkan ancaman-ancaman tersebut dengan serangan mematikan. 


Bahkan Indonesia tidak luput dari campur tangan dari negara adidaya. AS menyokong pemerintah Indonesia dalam melakukan pembantaian tahun 1965, menggulingkan Soekarno, menjajah Timor Leste, dan menjarah sumber daya alam di Papua. Dengan menelisik kerja-kerja media saat Soeharto mulai berkuasa, Chomsky menemukan bahwa untuk meyakinkan publik AS tentang betapa mulianya Soeharto, majalah Economist (majalah berita mingguan yang berbasis di London) menyebut sang Pembunuh Massal yang spektakuler ini sebagai seseorang yang “berhati ramah”. Tentu saja yang dimaksud adalah sikap Soeharto terhadap korporasi Barat (Amerika) (hlm. 54).


Chomsky menulis bahwa Amerika Serikat mulai memainkan perannya di Indonesia saat tahun 1965. Saat itu, bentuk dukungan Amerika Serikat diarahkan kepada kudeta yang dipimpin Soeharto. Dan berhasil, meski harus mengorbankan berjuta-juta manusia tak berdosa. Keberhasilan itu ditulis dengan cukup jumawa oleh pengamat liberal bernama James Reston yang dimuat di majalah Times dengan judul bombastis: “Secercah Cahaya di Asia” judul tersebut kemudian diletakkan di cover majalah itu. Seolah menunjukkan sebuah euforia. Euforia kejahatan. Sang presiden Indonesia itu di kemudian hari dikenang sebagai seorang jenderal fasis murah senyum. Bapak pembangunan kuburan massal.


Tak hanya persoalan-persoalan politik yang dibahas dalam buku setebal 448 halaman ini. Tetapi juga perpustakaan. Sebab perpustakaan adalah rumah bagi ilmu pengetahuan. Karena itu perpustakaan pun tak luput dari intervensi politik. Bagi Chomsky, minimnya buku-buku politik serius di perpustakaan-perpustakaan, berganti dengan buku-buku cerita popular dan motivasi, selain karena tekanan pasar dan sulitnya buku-buku politik diterima masyarakat, juga ada upaya penyeragaman pikiran untuk mencetak masyarakat sekedar menjadi pembebek selera-selera pasar belaka.


“Mengosongkan pikiran seseorang dari kemamapuan, atau bahkan semangat, untuk mengakses sumber daya kultural (sastra serius, antropologi, politik, dsb) merupakan kemenangan besar bagi sistem kapitalis,” ujar Chomsky (hal. 297)


Ya, Chomsky benar-benar seorang penantang abadi. Termasuk soal buku. Ketika pertama kali menjalin kerja sama penerbitan, Chomsky memilih penerbit kecil daripada penerbit sekelas Random House. Andre Schiffrir, mantan Direktur Pelaksana di Pantheon yang menerbitkan buku-buku awal Chomsky tentang politik selama tahun 1970-1980, mengenang, "Dia memberikan bukunya untuk kelangsungan hidup penerbit-penerbit kecil." Termasuk terbitan awal seri Real Story yang mula-mula ditangani penerbitannya oleh Arthur Neiman lewat Odonian Press dan kemudian terhimpun lengkap dalam buku ini. 


Melalui buku ini setidaknya masyarakat bisa membaca dengan penuh reflektif untuk memandang diri dan bangsanya sendiri apakah telah tercemar propaganda kebudayaan kapitalistik atau tidak. Kemudian diajak melakukan perubahan secara massif dan radikal. 


Tentang Penulis


Triya Diansyah adalah Alumni Bahasa Arab IAIN Madura. Penikmat buku. Pengajar. Juga pemilik Toko Buku “Al-Husna” Pamekasan-Madura.