Tulisan

OBITUARI: “Jangkar” Umat itu Telah Pergi

Setiap kabar kematian selalu punya dua daya pukul. Pertama, menghantam pikiran. Kedua menghantam perasaan. Namun kabar kematian seorang yang berpengaruh punya berlipat-lipat daya pukul. Seperti itu masyarakat Indonesia menyikapi meninggalnya Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah.

Salahuddin Wahid meninggal di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta,  pada 2 Februari 2020 sekitar pukul 20.55 WIB usai kritis setelah menjalani operasi jantung.  Kabar duka tersebut Kabar duka tersebut mula-mula disiarkan oleh putra Gus Solah, Irfan Wahid, melalui  akun twitternya.


“Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu,” tulis Irfan. Kabar pertama tersebut kemudian tersebar luas bagai mendung. Membuat duka yang menular dan rintik airmata jatuh perlahan. Indonesia kembali kehilangan salah satu orang terbaiknya. 


Pria kelahiran Jombang, 11 September 1942 silam itu merupakan salah satu tokoh Islam nasional yang pernah menduduki jabatan strategis di Indonesia. Selain dipercaya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang hingga tutup usia, adik kandung Presiden keempat Abdurrahman Wahid itu, pernah jadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di awal periode reformasi 1998.


Dalam upaya penanganan terorisme di Indonesia, Gus Sholah pun pernah masuk pada Tim 13 bentukan Komnas HAM. Tim ini dibuat untuk melakukan evaluasi terhadap penanganan terorisme di Indonesia oleh Densus 88. Anggota Tim 13 terdiri dari Komisioner Komnas HAM, Akademisi, Muhammadiyah dan Tokoh Agama. 


Tak hanya itu. Gus Sholah juga tak segan memberi dukungan pada perjuangan ibu-ibu Kendeng melawan pabrik semen yang hendak merampas tanah mereka. juga tak enggan mengambil sikap penuh resiko soal konflik Syiah di Sampang. Bahkan segera mengutus santri-santri terbaiknya membuat pernyataan pers serta mengirim dua bus rombongan santri memberi dukungan pada warga Syi’ah korban konflik Sampang yang diungsikan di Sidoarjo. 


"Beliau adalah guru, aktivis, ulama, cendekiawan, sekaligus tokoh hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Insya Allah, Husnul Khotimah (wafat dengan akhir yang baik)," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat mengucapkan duka cita atas meninggalnya Gus Sholah di Surabaya, Minggu malam kemarin (2/2/2020) saat diwawancarai wartawan Antara. 


Namun saat menyikapi kasus 65, Gus Sholah tidak seberani Gus Dur, kakaknya. Saat Gus Dur, kala menjadi Presiden, berupaya mencabut TAP MPRS nomer 25 tahun 1966 yang membubarkan Partai Komunis Indonesia serta melarang Marxisme, Leninisme dan Komunisme, termasuk meminta maaf atas kejadian paling berdarah di tahun 1965-1966 itu, Gus Sholah justru sebaliknya. 


Pada hari Jumat 8 Desember 2017 silam, misalnya, ia mengunjungi langsung Kantor Komnas HAM bersama para korban PKI. Orang-orang yang disakiti PKI. Saat itu, santer isu bahwa PKI akan diposisikan sebagai korban dan pemerintah akan minta maaf pada PKI.


“Gus Dur, Gus Dur. Saya, saya, ” ujarnya saat dipancing oleh Roy Murtadho, salah satu santri kepercayaannya mengenai kasus 65.( https://www.atorcator.com/2020/02/gus-solah-dan-cerita-kepedulian-pada-masalah-yang-mendera-ummat.html?) 


Tapi, lepas dari perbedaan cara pandangnya dengan sang Kakak, beliau adalah pejuang yang berani mengambil posisi. Berani bersikap. Kisah soal Kendeng dan Sampang adalah sedikit cerita kepedulian beliau pada banyak masalah yang mendera umat. Dengan kata lain, setiap pemikiran Gus Sholah, selalu mengandung upaya penyatuan umat. Menghargai sesama dan penghormatan pada hak asasi manusia. 


Karenanya jangan heran jika, sebelum wafatnya, Gus Sholah sempat menyinggung dua kali kata Jangkar dalam beberapa kesempatan. Pertama, saat ia memberi komentar tentang rencana pemutaran film “Jejak Langkah Dua Ulama”. "Muhammadiyah dan NU ini menjadi jangkarnya Indonesia, menjadi penyeimbang dari Pemerintahan siapapun juga. Semua itu karena peran dua tokoh ini (KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari). Karena itu perlu diperkenalkan agar masyarakat bisa mengenal lebih dekat dan meneladaninya," tutur Gus Sholah, seperti dikutip detiknews (3/2).

Kedua, dalam tulisan Gus Sholah yang dimuat Kompas (27/1). Pada kolom opini tersebut, Gus Sholah menyinggung kembali peran Muhammadiyah dan NU di atas, dan menambahkan pada ujung opininya; “NU sebaiknya tidak terlibat dalam politik praktis dan tetap berada di wilayah masyarakat madani. Sikap istikamah dan konsisten bergiat membuat NU bermartabat dan efektif menjadi jangkar bangsa Indonesia.”

Jangkar, secara Bahasa memiliki arti; pemberat pada kapal atau perahu, terbuat dari besi, diturunkan ke dalam air pada waktu berhenti agar kapal/perahu tidak oleng (kbbi). Jangkar merupakan perangkat yang berfungsi sebagai penambat kapal di dasar perairan, sungai atau laut, agar kapal tersebut tetap berada di posisinya. Agar kapal tak bergerak ke sembarang arah karena arus atau gelombang. 

Tak mungkin ada satu pun bahtera yang tak menyiapkan jangkar di geladaknya. Karena sebuah kapal tak mungkin selamanya berlayar, kapal pasti butuh waktu sejenak untuk berhenti. Beristirahat usai mengarungi perairan. Ketika berhenti, jangkar diturunkan. Agar kapal tak terseret arus. Jangkar adalah pegangan. Bahkan pada sebuah kapal besar, menurunkan jangkar di tengah lautan tak bisa dikerjakan sendirian. 

Jangkar adalah simbol dari pegangan. Jangkar adalah simbol bagi keselamatan. Seolah, adik Gus Dur ini menginginkan setiap individu atau kelompok-kelompok tertentu mengambil perannya masing-masing dalam laju kehidupan sebuah negeri. Tidak semua harus menjadi kapal. Apalagi berebut menjadi nahkoda. Ada peran lain yang perlu diambil secara sadar. Seperti menjadi jangkar. Pegangan. Tonggak. Memang letaknya jauh di bawah kapal. Di lempar ke dasar lautan. Tapi ia adalah penyeimbang. 

Barangkali Gus Sholah membayangkan Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah harus berfungsi sebagai penambat gerak bangsa. Karena dua organisasi besar Islam di Indonesia ini, melalui dua tokohnya; Ki Bagus Hadikusumo (Ketua PP Muhammadiyah 1942-1953) dan KH Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziah NU (1953-1954) adalah rem dalam setiap perjalanan negara ini. Jangkar bagi laju negara. 

Karena sikapnya yang toleran, egaliter, dan setiap nubuatnya adalah upaya memberi damai dan penyatuan umat Indonesia dalam kebhinekaan, ia disegani tidak hanya oleh ulama, melainkan juga tokoh-tokoh agama lain. Bukan hanya di Indonesia. Tetapi juga mungkin dunia. 

Namun sayangnya, takdir tak bisa diterka dan maut tak bisa dihela. Salah satu penjaga oleng kapal itu, “Jangkar” itu, telah pergi. Dipanggil sang Mahapencipta. Tak ada yang bisa menghentikan kehendak Sang Pencipta. Tak juga airmata. Airmata duka adalah harga yang harus kita bayar atas kehilangan orang-orang terbaik yang memikirkan negara ini tak tergelincir pada jurang kehancuran. Jurang konflik berdarah tak berkesudahan. Selamat jalan Gus Sholah. Damai selalu di sana. Pemikiranmu abadi. 

Kami tim redaksi manifesco.com dan manajemen manifesco cafe mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggalnya Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah. Semoga amal baiknya atas umat dan bangsa diterima di sisiNYA.