Tulisan

Kafe Sastra Dan Sastra Kafe Di Madura

Kafe dan sastra barangkali merupakan dua hal yang yang tak terpisahkan. Beberapa novel terkenal dan peristiwa sastra berpengaruh pernah ditulis di kafe-kafe di eropa. Sebut saja, misalnya, La Rotonde. Sebuah kafe di Paris yang letaknya di Carrefour Vavin, di sudut Boulevard du Montparnasse dan Boulevard Raspail. Selama periode antar perang, kafe yang  didirikan oleh Victor Libion ? pada tahun 1911 menjadi tempat nongkrong para seniman dan intelektual terkenal. 

Apa yang ditarik dari sejarah kafe dan sastra dunia, terutama di Madura, khususnya Pamekasan? Dalam beberapa tahun belakangan kita menyaksikan geliat ekonomi yang benar-benar “baru” di wilayah Madura. Kafe mendadak menjamur seperti karat di rel kereta. Menyebar hingga ke pelosok-pelosok desa. Terutama di pusat-pusat pendidikan (sekitar kampus atau sekolah).

Ini menarik. Mengingat badai krisis ekonomi sedang menerjang. Kebutuhan pokok terus melonjak begitu tinggi. Kenaikan tarif dasar listrik, biaya pendidikan, biaya kesehatan adalah kenyataan hidup yang hari-hari ini tengah kita hadapi. Tapi kafe terus bertumbuh. Pengunjung datang dan pergi. Seakan menjadi restoran kopi cepat saji belaka. Dan orang-orang madura mengadopsinya langsung dari Jakarta. Usaha kreatif dan ekonomi produktif, itulah dua kata kunci dari menjamurnya kafe di Madura akhir-akhir ini.

Bukan dari La Rotonde di Paris di masa perang dunia, atau sebuah kafe di Zurich yang melahirkan aliran seni Dada. Atau The Literary Cafe: St. Petersburg's. Yang dari rahim kopi mereka lahir banyak peristiwa besar di bidang budaya dan kesenian.

Benarkah tak ada sama sekali kafe yang tak hanya menyediakan kopi tapi juga inspirasi? Tunggu. Jalan-jalanlah ke Jalan Jalmak. Samping SMPN Negeri 8 Pamekasan. Sebuah kafe sederhana berdiri tegak di sana. Minimalis. Tapi unik dibanding kafe kebanyakan yang tumbuh. Manifesco Kafe namanya. Taglinenya: kopi, buku, dan ide. Menyediakan perpustakaan gratis bagi pengunjungnya. Ada ratusan buku yang dipajang dan bisa dibaca. Dengan berbagai judul dan tema. Juga memberikan kebebasan untuk pengunjung dalam berekspresi, seperti membaca puisi atau menyanyi. Semuanya gratis. Baca buku gratis. Baca puisi gratis. Makan minumnya bayar.

Kafe ini memang bukan La Rotonde di Paris atau The Literary Cafe: St. Petersburg's di Rusia. Tapi setidaknya kita mendapatkan sesuatu yang kini sedang diusung pemerintah negeri ini: literasi.

Memang keluar dari garis kafe yang diyakini banyak orang. Sekedar tempat bersosialisasi, membangun cerita, dan tentu saja, makan dan minum. Sebagaimana sejarah asalnya yang muncul pada abad ke 18. Kata Kafe berasal dari bahasa Perancis yaitu cafe yang berarti coffe dalam bahasa Indonesia kopi atau coffehouse dalam bahasa Indonesia kedai kopi.

Adalah utusan Sultan Mohammed IV yang pertama kali mengenalkan biji kopi pada 1669 di eropa. Termasuk cara menikmati kopi. Dalam waktu tiga tahun usai kunjungan tersebut, kebiasaan menikmati kopi jadi mode baru berkat pengusaha muda asal Armenia, bernama Pascal, yang menjualnya secara umum. Pada sebuah pameran besar di Saint Germain dan kemudian di sebuah toko kecil yang berlokasi di Quai de Evole, dimana ia menjual kopi dengan harga dua sol, enam dernier (sekitar dua penny Inggris) satu cangkir. Kebiasaaan itu bertahan hingga sekarang.

Tapi, lepas dari sejarah para bangsawan paris itu, jika kita sudah beralih ke kedai kopi dan restoran untuk belajar, alih-alih kamar atau perpustakaan, kita setidaknya menjadi bagian kecil dari semangat literasi. Menjadi bagian dari tumbuh kembangnya kemajuan sebuah negeri. Bukankah sastra bergerak seiring dengan zaman berderak? Dan masyarakatlah yang mula-mula menggerakkan sastra.

“Saya akan mempertahankan konsep kafe ini. Buku, kopi dan ide. Saya ingin seni dan sastra tumbuh berkembang seiring dengan laju ekonomi,” ujar pemilik Manifesco, yang juga seorang penyair, Achmad Maghfur, atau yang kerap disapa Mapung Madura saat penulis temui di acara talk show seni rupa. Penulis menemuinya pada malam ketiga Grand Opening kafe miliknya beberapa waktu silam. Saat itu sedang berlangsung acara bincang  seni bertema “rupa rupa pamekasan” dengan narasumber perupa madura, Sumantri (Sumenep) dan BH Riyanto (Pamekasan). Dan penulis rasa pernyataan itu memang tak sekedar isapan jempol belaka.

Pada minggu terakhir bulan Desember 2019 kemarin, Manifesco Kafe kembali menegaskan posisinya sebagai kafe sastra. Kafe ini menggelar festival sastra bertajuk Festival Aksara Manifesco. Mengundang beberapa penyair seperti D. Zawawi Imron untuk pidato kebudayaan dan Saut Situmorang dalam bincang sastra internasional. Juga menggelar pelatihan menulis cerpen yang akan dipandu cerpenis pemenang cerpen terbaik harian Kompas tahun 2017, Muna Masyari. Artinya, kafe dan sastra merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam sejarah zaman. Dan Manifesco mencoba menghidupkannya lagi.

Sebab pada akhirnya, suka tidak suka, kita selalu rindu kebaruan. Inovasi. Tidak sekedar duduk, ngopi dan pulang. Kita pada akhirnya ingin duduk di kafe dan mendapatkan pencerahan. Mendapatkan semangat baru dari ilmu pengetahuan. Dan ibu dari ilmu pengetahuan adalah sastra. Dari sanalah kita bermula. (*)